Kenali 10 kebiasaan sederhana untuk menjaga kesehatan gigi dan mulut, mulai dari cara menyikat gigi, memilih pasta gigi hingga waktu pemeriksaan.
Ada kebiasaan yang dilakukan hampir setiap hari tetapi sering baru dianggap penting ketika masalah sudah muncul.
Salah satunya adalah menjaga kesehatan gigi dan mulut.
Selama gigi tidak sakit, banyak orang merasa tidak ada yang perlu dikhawatirkan.
Padahal, tidak semua masalah gigi langsung menimbulkan rasa sakit.
Plak dapat menumpuk secara perlahan. Gusi bisa mengalami peradangan. Lubang kecil pada gigi dapat berkembang tanpa terasa. Bahkan seseorang mungkin baru menyadari ada masalah setelah keluhan mulai mengganggu makan atau tidur.
Data Kementerian Kesehatan yang disampaikan pada 2025 menunjukkan masalah gigi dan mulut masih menjadi tantangan besar di Indonesia. Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia 2023, sekitar 56,9 persen penduduk usia di atas tiga tahun mengalami masalah gigi dan mulut, sementara hanya 6,2 persen yang dilaporkan menyikat gigi dengan benar.
Angka tersebut menunjukkan bahwa menjaga kesehatan gigi bukan persoalan sepele.
Namun, kabar baiknya adalah banyak langkah pencegahan justru bisa dimulai dari rumah.
Tidak harus menunggu sakit.
Tidak harus menunggu gigi berlubang.
Dan tidak harus menggunakan perawatan yang rumit.
Yang paling penting adalah konsistensi.
Berikut kebiasaan yang layak diperhatikan.
1. Jangan Menyikat Gigi Sekadarnya
Menyikat gigi memang sudah menjadi bagian dari rutinitas sehari-hari.
Namun pertanyaannya:
Apakah gigi benar-benar dibersihkan secara menyeluruh?
Sebagian orang menyikat gigi terlalu cepat.
Ada yang hanya fokus pada bagian depan gigi karena mudah terlihat.
Ada pula yang menggosok dengan gerakan sangat keras karena mengira tekanan yang lebih kuat berarti gigi akan semakin bersih.
Padahal, membersihkan gigi bukan soal seberapa keras Anda menggosok.
Teknik dan konsistensi jauh lebih penting.
WHO merekomendasikan menyikat gigi dua kali sehari menggunakan pasta gigi yang mengandung fluoride dengan konsentrasi 1.000–1.500 ppm.
Kementerian Kesehatan juga menganjurkan menyikat gigi secara rutin dan memperhatikan seluruh permukaan gigi.
Jadi, jangan hanya menyikat bagian yang terlihat ketika tersenyum.
Bagian dalam, luar, dan permukaan yang digunakan untuk mengunyah juga perlu diperhatikan.
2. Jangan Menganggap Menyikat Lebih Keras Berarti Lebih Bersih
Ini salah satu kebiasaan yang terlihat masuk akal tetapi sebenarnya perlu dihindari.
Ketika melihat plak atau noda pada gigi, seseorang mungkin secara otomatis menambah tekanan saat menyikat.
Padahal tekanan berlebihan dapat mengganggu jaringan gusi dan dalam kondisi tertentu berkontribusi terhadap masalah pada permukaan gigi.
Kementerian Kesehatan juga mengingatkan agar menyikat gigi tidak dilakukan terlalu keras.
Gunakan gerakan yang lembut dan terkontrol.
Tujuan menyikat gigi adalah membersihkan plak, bukan “mengikis” gigi.
Jika sikat gigi terasa kasar atau bulunya sudah rusak, periksa kembali apakah sikat yang digunakan memang sesuai.
3. Pilih Pasta Gigi yang Mengandung Fluoride
Fluoride merupakan salah satu komponen penting dalam pencegahan karies.
WHO merekomendasikan penggunaan pasta gigi berfluoride untuk menyikat gigi dua kali sehari.
Fluoride membantu memperkuat pertahanan gigi terhadap proses yang menyebabkan kerusakan.
Karena itu, ketika membeli pasta gigi, jangan hanya memilih berdasarkan rasa, warna, atau desain kemasan.
Perhatikan kandungannya.
Cari informasi mengenai fluoride pada kemasan.
Untuk penggunaan tertentu, terutama anak-anak, pilihan pasta gigi dan jumlah yang digunakan dapat disesuaikan dengan usia dan rekomendasi dokter gigi.
4. Jangan Lupa Membersihkan Lidah
Gigi bukan satu-satunya bagian yang perlu diperhatikan.
Lidah juga dapat menjadi tempat menempelnya sisa makanan dan lapisan tertentu.
Jika tidak dibersihkan, kondisi tersebut dapat berkontribusi terhadap bau mulut.
Membersihkan lidah dapat dilakukan secara lembut menggunakan sikat gigi atau alat pembersih lidah.
Namun jangan menggosok terlalu keras.
Jika lidah mengalami luka, nyeri, perubahan warna yang menetap, atau kelainan yang tidak biasa, jangan hanya mencoba membersihkannya sendiri.
Periksakan jika diperlukan.
5. Perhatikan Makanan dan Minuman Manis
Masalah gigi tidak hanya ditentukan oleh bagaimana seseorang menyikat gigi.
Pola makan juga berperan.
Makanan dan minuman yang mengandung gula dapat berkontribusi terhadap proses terjadinya karies, terutama jika dikonsumsi terlalu sering.
Yang perlu diperhatikan bukan hanya permen.
Minuman manis, minuman bersoda, kue, biskuit, makanan penutup, dan berbagai produk lainnya juga bisa mengandung gula.
Karena itu, menjaga kesehatan gigi tidak berarti hanya membawa sikat gigi ke mana-mana.
Pilihan makanan sehari-hari juga perlu diperhatikan.
Kementerian Kesehatan menyarankan pembatasan makanan manis sebagai salah satu bagian dari upaya menjaga kesehatan gigi dan mulut.
6. Jangan Terlalu Sering Ngemil Manis
Ada perbedaan antara mengonsumsi makanan manis sesekali dengan terus-menerus mengonsumsi makanan atau minuman manis sepanjang hari.
Kebiasaan ngemil sedikit tetapi berkali-kali dapat membuat gigi lebih sering terpapar lingkungan yang mendukung proses kerusakan gigi.
Karena itu, jika ingin menikmati makanan manis, perhatikan frekuensinya.
Bukan berarti semua makanan manis harus dihapus dari kehidupan.
Yang lebih realistis adalah mengonsumsinya secara bijak dan tidak menjadikannya kebiasaan sepanjang hari.
7. Bersihkan Sela Gigi
Sikat gigi memiliki keterbatasan.
Ada area di antara gigi yang tidak selalu mudah dibersihkan hanya dengan bulu sikat.
Di sinilah pembersihan interdental dapat berperan.
Salah satu pilihan adalah benang gigi atau dental floss.
Kementerian Kesehatan menyebut flossing sebagai salah satu bagian dari perawatan kebersihan gigi dan mulut untuk membantu membersihkan area yang tidak terjangkau sikat.
Bagi orang yang belum terbiasa, penggunaan benang gigi mungkin terasa sulit pada awalnya.
Namun setelah terbiasa, rutinitas ini dapat menjadi bagian dari perawatan mulut.
Jika tidak yakin mengenai teknik yang tepat, mintalah dokter gigi menunjukkan cara penggunaannya.
8. Jangan Menggunakan Gigi sebagai Alat
Ini kebiasaan yang sering dianggap lucu tetapi bisa berbahaya.
Membuka bungkus menggunakan gigi.
Menggigit tutup botol.
Memecahkan benda keras.
Menggigit kuku.
Atau menggunakan gigi untuk menahan benda.
Gigi memang kuat untuk mengunyah makanan.
Namun bukan berarti gigi dirancang sebagai alat pembuka atau pemotong.
Kebiasaan tersebut dapat meningkatkan risiko gigi retak, terkelupas, atau mengalami cedera.
Jika sebuah benda sulit dibuka, gunakan alat yang memang dibuat untuk membukanya.
Biarkan gigi melakukan tugas utamanya.
Yaitu mengunyah.
9. Jangan Mengabaikan Gusi Berdarah
Sebagian orang menganggap gusi berdarah saat menyikat gigi sebagai sesuatu yang normal.
Padahal, gusi berdarah dapat menjadi tanda adanya masalah yang perlu diperhatikan.
Masalah gusi dapat berkaitan dengan penumpukan plak dan kondisi peradangan.
Kementerian Kesehatan menjelaskan bahwa kebersihan mulut yang buruk dapat berkontribusi terhadap masalah gusi, termasuk peradangan yang dapat berkembang menjadi penyakit periodontal.
Karena itu, jika gusi sering berdarah, jangan sekadar mengganti sikat gigi lalu mengabaikannya.
Perhatikan apakah keluhan berulang.
Jika terus terjadi, konsultasikan kepada dokter gigi.
10. Jangan Menunggu Sakit untuk ke Dokter Gigi
Ini mungkin kebiasaan paling penting.
Banyak orang baru mengunjungi dokter gigi ketika rasa sakit sudah tidak tertahankan.
Padahal, pemeriksaan dapat membantu menemukan masalah lebih awal.
Kementerian Kesehatan menyebut pemeriksaan gigi secara teratur penting untuk mendeteksi masalah pada gigi, gusi, maupun rongga mulut lebih dini.
Pemeriksaan rutin bukan berarti seseorang pasti membutuhkan tindakan tertentu.
Justru tujuannya adalah mengetahui kondisi lebih awal sehingga perawatan dapat disesuaikan.
Jangan menunggu sampai:
- gigi terasa sangat sakit;
- gusi membengkak;
- muncul nanah;
- gigi patah;
- atau sulit makan.
Jika muncul keluhan yang menetap, lebih baik diperiksa.
Mengapa Gigi Bisa Bermasalah Padahal Rajin Menyikat?
Ini pertanyaan yang cukup sering muncul.
Seseorang mungkin merasa sudah rajin menyikat gigi tetapi tetap mengalami masalah.
Penyebabnya bisa beragam.
Teknik menyikat mungkin kurang tepat.
Area tertentu mungkin tidak terjangkau.
Pola makan mungkin terlalu sering mengandung gula.
Pembersihan sela gigi belum dilakukan.
Atau memang terdapat faktor risiko lain.
Itulah mengapa kesehatan gigi tidak hanya bergantung pada satu kebiasaan.
Ia merupakan kombinasi antara kebersihan mulut, pola makan, pemeriksaan, kebiasaan hidup, serta kondisi individu.
Jangan Menilai Kesehatan Gigi Hanya dari Warnanya
Gigi putih sering dianggap sebagai tanda gigi sehat.
Padahal warna bukan satu-satunya indikator.
Gigi seseorang dapat memiliki warna alami yang tidak benar-benar putih tetapi tetap sehat.
Sebaliknya, gigi yang terlihat putih belum tentu bebas dari masalah.
Karies awal, gangguan gusi, atau masalah pada jaringan mulut tidak selalu terlihat jelas dari jauh.
Jadi, jangan terlalu terobsesi dengan warna.
Lebih baik fokus pada kebersihan, fungsi, kenyamanan, dan pemeriksaan yang tepat.
Bau Mulut Juga Perlu Diperhatikan
Bau mulut terkadang hanya dianggap sebagai masalah sosial.
Padahal penyebabnya bisa berhubungan dengan kondisi rongga mulut.
Lapisan pada lidah, kebersihan gigi yang kurang, masalah gusi, mulut kering, atau faktor lainnya dapat berkontribusi.
Membersihkan gigi dan lidah merupakan salah satu langkah dasar.
Namun jika bau mulut menetap meskipun kebersihan mulut sudah dijaga, sebaiknya jangan hanya menutupi baunya dengan permen atau obat kumur.
Cari penyebabnya.
Dokter gigi dapat membantu mengevaluasi kondisi rongga mulut.
Apakah Obat Kumur Wajib Digunakan?
Tidak semua orang harus menggunakan obat kumur sebagai pengganti menyikat gigi.
Ini penting.
Obat kumur tidak seharusnya dianggap sebagai pengganti kebiasaan dasar seperti menyikat gigi dan membersihkan sela gigi.
Penggunaan produk tertentu juga perlu disesuaikan dengan kebutuhan.
Jika memiliki masalah gusi atau kondisi tertentu, dokter gigi dapat merekomendasikan jenis perawatan yang sesuai.
Jangan menggunakan produk antiseptik secara berlebihan hanya karena menganggap sensasi terbakar berarti lebih efektif.
Bagaimana dengan Sikat Gigi Elektrik?
Sikat gigi elektrik dapat menjadi pilihan bagi sebagian orang.
Namun bukan berarti sikat gigi manual tidak efektif.
Yang lebih penting adalah bagaimana alat tersebut digunakan.
Pastikan seluruh permukaan gigi dibersihkan.
Gunakan tekanan yang sesuai.
Jangan terburu-buru.
Dan ganti kepala sikat atau sikat sesuai kondisi dan petunjuk penggunaan.
Jika bingung memilih antara sikat manual dan elektrik, dokter gigi dapat memberikan rekomendasi berdasarkan kondisi Anda.
Kebiasaan yang Sebaiknya Diajarkan Sejak Anak-Anak
Kesehatan gigi tidak seharusnya baru diperhatikan ketika seseorang dewasa.
Kebiasaan baik perlu dibentuk sejak kecil.
Anak dapat diajarkan:
- menyikat gigi secara rutin;
- menggunakan pasta gigi berfluoride sesuai usia;
- membatasi makanan dan minuman manis;
- tidak menggunakan gigi untuk menggigit benda keras;
- serta memeriksakan gigi secara teratur.
Kementerian Kesehatan juga menekankan pentingnya edukasi kesehatan gigi sejak dini dan penguatan layanan preventif.
Anak yang terbiasa merawat gigi sejak kecil memiliki kesempatan lebih baik untuk membawa kebiasaan tersebut sampai dewasa.
Bagaimana Jika Gigi Sudah Berlubang?
Jika sudah terdapat lubang pada gigi, menjaga kebersihan tetap penting.
Tetapi menyikat gigi saja tidak otomatis menghilangkan lubang yang sudah terbentuk.
Perawatan harus disesuaikan dengan kondisi gigi.
Dalam beberapa kasus mungkin diperlukan penambalan.
Pada kondisi tertentu bisa membutuhkan perawatan lain.
Karena itu, jangan percaya pada klaim yang menjanjikan gigi berlubang dapat “sembuh total” hanya dengan satu produk rumahan.
Jika ada lubang, konsultasikan kepada dokter gigi.
Semakin lama ditunda, masalah bisa berkembang lebih jauh.
Tanda-Tanda yang Tidak Sebaiknya Diabaikan
Segera pertimbangkan pemeriksaan gigi jika mengalami:
- sakit gigi yang berulang;
- gusi sering berdarah;
- gusi bengkak;
- gigi terasa goyang;
- gigi sensitif terus-menerus;
- bau mulut yang menetap;
- pembengkakan pada wajah atau rahang;
- luka di mulut yang tidak kunjung sembuh;
- atau kesulitan mengunyah.
Terutama jika keluhan semakin berat.
Jangan hanya mengandalkan obat pereda nyeri untuk menghilangkan gejala tanpa mencari penyebabnya.
Kementerian Kesehatan pada 2025 juga mengingatkan bahwa rasa sakit yang hilang setelah obat pereda nyeri tidak selalu berarti masalah gigi sudah selesai.
Rutinitas Sederhana Pagi dan Malam
Jika ingin membuat kebiasaan yang mudah diingat, gunakan rutinitas sederhana.
Pagi
Bangun.
Membersihkan gigi dengan pasta gigi berfluoride.
Membersihkan lidah secara lembut.
Kemudian sarapan dengan pilihan makanan yang seimbang.
Siang
Perhatikan konsumsi makanan dan minuman manis.
Minum air secukupnya.
Jika memungkinkan, bersihkan mulut setelah makan sesuai kebiasaan dan rekomendasi tenaga kesehatan.
Malam
Bersihkan sela gigi jika menggunakan floss atau alat interdental.
Sikat gigi sebelum tidur.
Setelah itu, hindari kebiasaan ngemil terus-menerus sebelum tidur.
Rutinitas sederhana seperti ini jauh lebih mudah dipertahankan dibandingkan mencoba banyak produk perawatan sekaligus.
Kesehatan Gigi Bukan Sekadar Soal Senyum
Gigi dan mulut merupakan bagian dari tubuh.
Masalah pada rongga mulut dapat memengaruhi kenyamanan makan, berbicara, tidur, dan aktivitas sehari-hari.
Kementerian Kesehatan juga menekankan bahwa kesehatan gigi dan mulut merupakan bagian penting dari kesehatan secara keseluruhan.
Karena itu, jangan menempatkan perawatan gigi hanya sebagai urusan penampilan.
Gigi yang terawat membantu seseorang mempertahankan fungsi mulut dengan lebih baik.
Dan seperti banyak aspek kesehatan lainnya, pencegahan biasanya lebih mudah daripada menunggu masalah berkembang.
Kesimpulan
Menjaga kesehatan gigi dan mulut sebenarnya tidak membutuhkan rutinitas yang rumit.
Yang dibutuhkan adalah kebiasaan sederhana yang dilakukan secara konsisten.
Sikat gigi dengan teknik yang tepat.
Gunakan pasta gigi berfluoride.
Jangan menyikat terlalu keras.
Bersihkan sela gigi.
Perhatikan konsumsi makanan dan minuman manis.
Jangan menggunakan gigi sebagai alat.
Perhatikan kondisi gusi.
Dan jangan menunggu sakit untuk memeriksakan diri.
WHO menganjurkan menyikat gigi dua kali sehari menggunakan pasta gigi berfluoride, sementara Kementerian Kesehatan juga menekankan pentingnya pencegahan, kebersihan mulut, pola makan yang mendukung kesehatan gigi, dan pemeriksaan secara berkala.
Yang paling penting, jangan menganggap masalah kecil sebagai sesuatu yang pasti akan hilang sendiri.
Gusi berdarah berulang.
Bau mulut yang menetap.
Gigi sensitif.
Lubang kecil.
Nyeri yang datang dan pergi.
Semuanya layak diperhatikan.
Kesehatan gigi bukan sesuatu yang baru perlu dipikirkan ketika rasa sakit muncul.
Merawat gigi hari ini adalah cara sederhana untuk mengurangi masalah di kemudian hari.
Dan mungkin, kebiasaan kesehatan terbaik bukanlah yang paling mahal atau paling canggih.
Melainkan kebiasaan sederhana yang dilakukan setiap hari tanpa pernah dilewatkan.