Media sosial telah menjadi bagian yang sulit dipisahkan dari kehidupan modern. Dalam hitungan detik, seseorang dapat mengetahui kabar teman, mengikuti perkembangan berita, mencari informasi kesehatan, menonton video hiburan, berbelanja, hingga berkomunikasi dengan orang yang berada di lokasi berbeda.
Kehadiran media sosial tentu membawa banyak kemudahan. Namun, di balik manfaat tersebut terdapat pertanyaan yang semakin penting untuk diperhatikan: bagaimana sebenarnya pengaruh media sosial dan kesehatan?
Jawabannya tidak sesederhana menganggap media sosial selalu buruk atau selalu bermanfaat. Dampaknya sangat bergantung pada cara seseorang menggunakan platform digital, jenis konten yang dikonsumsi, durasi penggunaan, kondisi psikologis, serta kehidupan sosial dan lingkungan di dunia nyata.
Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO juga menilai lingkungan digital memiliki dampak yang kompleks terhadap kesehatan mental. Teknologi dapat membantu seseorang memperoleh informasi, membangun hubungan sosial, dan mendapatkan dukungan, tetapi juga dapat menghadirkan risiko seperti cyberbullying, isolasi, perilaku penggunaan yang bermasalah, serta paparan konten yang merugikan.
Karena itu, memahami hubungan media sosial dengan kesehatan menjadi bagian penting dari gaya hidup sehat di era digital.
Media Sosial Tidak Selalu Berdampak Buruk
Sebelum membahas risikonya, penting untuk memahami bahwa media sosial memiliki berbagai manfaat bagi kesehatan.
Seseorang dapat memperoleh informasi mengenai pola makan sehat, aktivitas fisik, kesehatan mental, hingga berbagai edukasi mengenai penyakit dari sumber yang kredibel. Media sosial juga memungkinkan komunitas dengan minat tertentu saling memberikan dukungan.
Bagi orang yang merasa sendirian, interaksi secara online terkadang dapat memberikan rasa terhubung. Komunitas digital bahkan dapat menjadi tempat seseorang bertukar pengalaman dan mendapatkan dukungan emosional.
Penelitian yang dirangkum Cochrane menunjukkan bahwa program berbasis media sosial dalam beberapa kondisi dapat membantu meningkatkan perilaku kesehatan tertentu, seperti aktivitas fisik dan partisipasi dalam skrining kesehatan. Namun, efeknya tidak selalu sama untuk setiap perilaku atau kondisi kesehatan.
Artinya, masalahnya bukan semata-mata keberadaan media sosial. Yang lebih penting adalah bagaimana seseorang menggunakannya.
1. Media Sosial Dapat Memengaruhi Kesehatan Mental
Salah satu aspek yang paling banyak dibicarakan dari penggunaan media sosial adalah kesehatan mental.
Media sosial membuat seseorang dapat melihat kehidupan orang lain secara terus-menerus. Masalahnya, unggahan yang muncul biasanya merupakan bagian tertentu dari kehidupan seseorang yang dianggap menarik untuk dibagikan.
Foto liburan, keberhasilan karier, tubuh ideal, makanan mahal, hubungan romantis, atau pencapaian tertentu dapat membuat pengguna tanpa sadar membandingkan kehidupannya dengan orang lain.
Perbandingan tersebut dapat menimbulkan pikiran seperti:
“Kenapa hidup saya tidak seperti dia?”
“Kenapa saya belum mencapai hal tersebut?”
“Mengapa orang lain terlihat lebih bahagia?”
Jika berlangsung terus-menerus, kebiasaan membandingkan diri dapat memengaruhi rasa percaya diri dan kepuasan terhadap kehidupan.
Sejumlah tinjauan penelitian menemukan adanya hubungan antara penggunaan media sosial yang berlebihan dengan masalah seperti kecemasan dan gejala depresi, meskipun hubungan tersebut tidak berarti bahwa media sosial merupakan satu-satunya penyebab masalah kesehatan mental.
Karena itu, penting untuk melihat penggunaan media sosial dalam konteks yang lebih luas.
2. Kebiasaan Scrolling Dapat Mengganggu Waktu Tidur
Salah satu dampak yang sering tidak disadari adalah perubahan pola tidur.
Seseorang mungkin awalnya hanya ingin membuka media sosial selama lima menit sebelum tidur. Namun, video pendek, komentar, berita, dan rekomendasi konten membuat aktivitas tersebut berlangsung jauh lebih lama.
Tanpa disadari, waktu tidur semakin mundur.
Kebiasaan ini menjadi masalah ketika terjadi berulang kali. Kurang tidur dapat membuat tubuh terasa lelah pada pagi hari, sulit berkonsentrasi, mudah mengantuk, dan kurang bersemangat menjalani aktivitas.
WHO Europe juga mencatat bahwa penggunaan media sosial yang bermasalah pada remaja berkaitan dengan waktu tidur yang lebih sedikit dan waktu tidur yang semakin larut.
Karena itu, mengurangi penggunaan media sosial menjelang tidur dapat menjadi salah satu langkah sederhana untuk memperbaiki kebiasaan istirahat.
3. Terlalu Lama Bermedia Sosial Bisa Mengurangi Aktivitas Fisik
Media sosial tidak secara langsung membuat seseorang menjadi tidak aktif. Namun, waktu yang terlalu banyak dihabiskan di depan layar dapat menggantikan waktu yang sebenarnya dapat digunakan untuk bergerak.
Misalnya, seseorang seharusnya berjalan kaki, berolahraga, membersihkan rumah, atau melakukan aktivitas luar ruangan. Namun karena terlalu lama menonton video atau mengikuti percakapan online, aktivitas fisik tersebut akhirnya tertunda.
Jika pola tersebut berlangsung setiap hari, gaya hidup menjadi semakin sedentari.
Padahal, tubuh membutuhkan aktivitas fisik untuk menjaga kebugaran, kekuatan otot, kesehatan jantung, serta metabolisme.
Solusinya bukan harus menghapus semua aplikasi media sosial. Membuat batas waktu penggunaan dan menyisipkan aktivitas fisik di antara waktu menggunakan gawai dapat menjadi pendekatan yang lebih realistis.
4. Media Sosial Dapat Mendorong Pola Makan yang Kurang Sehat
Pengaruh media sosial terhadap kesehatan juga dapat muncul melalui makanan.
Konten makanan yang menarik dapat membuat seseorang lebih sering memikirkan makanan, mengikuti tren kuliner, atau melakukan pembelian berdasarkan rekomendasi influencer.
Tidak semua informasi makanan yang viral memiliki dasar kesehatan yang kuat.
Beberapa tren diet bahkan dapat memberikan kesan bahwa seseorang harus menghindari kelompok makanan tertentu secara ekstrem untuk mendapatkan tubuh ideal. Padahal, kebutuhan nutrisi setiap orang berbeda.
Di sisi lain, media sosial juga dapat digunakan untuk menyebarkan edukasi mengenai gizi seimbang. Tantangannya adalah kemampuan pengguna dalam membedakan informasi berbasis bukti dengan klaim kesehatan yang berlebihan.
Karena itu, jangan menjadikan satu video atau unggahan sebagai satu-satunya dasar untuk mengubah pola makan.
5. Komentar Negatif dan Cyberbullying Dapat Memengaruhi Emosi
Interaksi digital tidak selalu berjalan positif.
Komentar negatif, hinaan, body shaming, pelecehan, hingga cyberbullying dapat memberikan tekanan emosional kepada korban.
Berbeda dengan konflik biasa yang mungkin selesai setelah seseorang meninggalkan suatu tempat, konflik di media sosial dapat terus muncul melalui notifikasi, komentar, pesan pribadi, atau unggahan baru.
WHO memasukkan cyberbullying dan berbagai bentuk kekerasan online sebagai salah satu risiko dalam lingkungan digital, terutama bagi kelompok usia muda.
Karena itu, menjaga kesehatan mental di dunia digital juga berarti mengetahui kapan harus memblokir akun, membatasi komentar, melaporkan konten, atau mengambil jarak dari percakapan yang tidak sehat.
6. FOMO Membuat Seseorang Sulit Lepas dari Ponsel
Pernah merasa khawatir tertinggal tren hanya karena tidak membuka media sosial selama beberapa jam?
Perasaan tersebut sering dikaitkan dengan istilah FOMO atau Fear of Missing Out.
FOMO dapat membuat seseorang merasa harus selalu mengetahui apa yang sedang terjadi. Akibatnya, ponsel diperiksa berkali-kali meskipun tidak ada kebutuhan penting.
Kebiasaan tersebut dapat mengganggu konsentrasi ketika bekerja, belajar, makan, bahkan saat sedang berbicara dengan keluarga.
Masalahnya bukan hanya durasi penggunaan, tetapi juga seberapa sering perhatian seseorang berpindah dari aktivitas nyata menuju layar.
7. Doomscrolling Bisa Membuat Pikiran Terus Berada dalam Mode Waspada
Media sosial dirancang untuk menghadirkan informasi secara terus-menerus. Salah satu kebiasaan yang muncul adalah doomscrolling, yaitu aktivitas terus membaca atau melihat berbagai informasi negatif meskipun konten tersebut membuat seseorang merasa cemas atau tertekan.
Seseorang mungkin mengetahui bahwa membaca berita negatif membuat pikirannya tidak nyaman, tetapi tetap melanjutkan scrolling karena selalu ada konten berikutnya.
Jika dilakukan terutama pada malam hari, kebiasaan tersebut dapat membuat pikiran sulit beristirahat.
Karena itu, penting untuk mengetahui kapan harus berhenti.
Tidak semua informasi harus diketahui saat itu juga.
8. Media Sosial Juga Bisa Menjadi Sarana Mendukung Kesehatan
Di sisi lain, penggunaan media sosial yang sehat dapat memberikan banyak manfaat.
Seseorang dapat mengikuti akun dokter, ahli gizi, psikolog, institusi kesehatan, organisasi kesehatan, maupun sumber edukasi yang terpercaya.
Media sosial juga dapat membantu seseorang menemukan komunitas olahraga, kelompok pendukung, informasi layanan kesehatan, serta berbagai kegiatan positif.
Meta-analisis yang diterbitkan dalam Journal of Computer-Mediated Communication menunjukkan bahwa hubungan antara aktivitas media sosial dan kesehatan mental sangat beragam. Pengaruhnya dapat berbeda berdasarkan bagaimana media sosial digunakan, bukan hanya berapa lama seseorang berada di dalamnya.
Ini menjadi poin penting: kualitas penggunaan media sosial sama pentingnya dengan kuantitas.
9. Bagaimana Cara Menggunakan Media Sosial dengan Lebih Sehat?
Mengurangi dampak negatif media sosial tidak selalu berarti harus menghapus seluruh akun.
Ada beberapa kebiasaan sederhana yang dapat dicoba.
Pertama, tentukan waktu khusus untuk membuka media sosial. Hindari membuka aplikasi secara otomatis setiap kali merasa bosan.
Kedua, evaluasi akun yang diikuti. Jika suatu akun membuat seseorang terus merasa rendah diri, cemas, marah, atau tidak nyaman, pertimbangkan untuk berhenti mengikuti atau membatasi kontennya.
Ketiga, jangan menjadikan jumlah likes, komentar, atau jumlah pengikut sebagai ukuran nilai diri.
Keempat, hindari scrolling tanpa tujuan menjelang tidur. Berikan waktu bagi pikiran untuk beristirahat sebelum benar-benar tidur.
Kelima, tetap prioritaskan kehidupan offline. Berbicara dengan keluarga, bertemu teman, berolahraga, berjalan kaki, membaca buku, atau melakukan hobi dapat membantu menciptakan keseimbangan.
Keenam, periksa sumber informasi kesehatan sebelum mempercayainya. Jangan mudah mengikuti tren kesehatan hanya karena sebuah video mendapatkan jutaan penayangan.
10. Kapan Penggunaan Media Sosial Mulai Menjadi Masalah?
Penggunaan media sosial patut diperhatikan apabila seseorang mulai merasa tidak mampu mengendalikannya dan aktivitas tersebut mengganggu kehidupan sehari-hari.
Beberapa tanda yang dapat menjadi perhatian antara lain:
- sulit berhenti menggunakan media sosial;
- merasa gelisah ketika tidak dapat membuka aplikasi;
- tidur semakin larut karena scrolling;
- pekerjaan atau sekolah terganggu;
- hubungan dengan keluarga atau teman menjadi kurang baik;
- sering membandingkan diri dengan orang lain;
- suasana hati berubah setelah melihat konten tertentu;
- aktivitas fisik semakin berkurang;
- mengabaikan kebutuhan dasar karena terlalu lama online.
WHO mendefinisikan penggunaan media sosial yang bermasalah pada remaja sebagai pola penggunaan yang sulit dikendalikan dan menimbulkan konsekuensi negatif dalam kehidupan sehari-hari. Data WHO Europe menunjukkan prevalensi perilaku penggunaan media sosial bermasalah pada remaja yang diteliti meningkat dari 7% pada 2018 menjadi 11% pada 2022.
Jika penggunaan media sosial sudah mengganggu fungsi sehari-hari atau menimbulkan tekanan emosional yang berat, mencari bantuan dari tenaga profesional dapat menjadi langkah yang tepat.
Menemukan Keseimbangan antara Dunia Digital dan Dunia Nyata
Pada akhirnya, media sosial bukanlah musuh kesehatan.
Teknologi hanyalah alat. Dampaknya sangat dipengaruhi oleh bagaimana manusia menggunakannya.
Media sosial dapat menjadi sumber informasi, hiburan, komunikasi, komunitas, bahkan dukungan kesehatan. Namun, penggunaan tanpa batas juga dapat berkontribusi terhadap gangguan tidur, berkurangnya aktivitas fisik, perbandingan sosial, stres, serta berbagai masalah psikologis pada sebagian pengguna.
Karena itu, tujuan yang lebih realistis bukanlah sepenuhnya menghilangkan media sosial dari kehidupan, melainkan membangun hubungan yang lebih sehat dengan teknologi.
Gunakan media sosial untuk mendapatkan manfaat, bukan membiarkan algoritma menentukan seluruh perhatian dan waktu kita.
Mulailah dari langkah kecil. Matikan notifikasi yang tidak penting, kurangi scrolling tanpa tujuan, pilih konten yang memberikan manfaat, berikan waktu untuk bergerak, dan sisihkan beberapa jam dalam sehari untuk benar-benar hadir di dunia nyata.
Kesehatan di era digital bukan hanya tentang menjaga tubuh dari penyakit, tetapi juga tentang menjaga pikiran, waktu, perhatian, hubungan sosial, dan kualitas hidup.
Dengan penggunaan yang lebih sadar, media sosial dapat menjadi bagian dari gaya hidup modern tanpa harus mengorbankan kesehatan.