Doomscrolling dan Kesehatan Mental: Kebiasaan Digital yang Diam-Diam Menguras Kebahagiaan

Di era digital saat ini, informasi dapat diakses hanya dalam hitungan detik. Berbagai berita dari seluruh dunia muncul tanpa henti melalui media sosial, portal berita, aplikasi pesan instan, hingga video pendek yang terus berganti di layar ponsel. Kemudahan akses informasi memang memberikan banyak manfaat, namun di balik itu terdapat kebiasaan yang mulai mendapat perhatian para ahli kesehatan mental, yaitu doomscrolling.

Istilah doomscrolling mungkin masih terdengar asing bagi sebagian orang. Namun tanpa disadari, jutaan orang melakukannya setiap hari. Doomscrolling adalah kebiasaan terus-menerus membaca, menonton, atau mencari informasi negatif secara berlebihan melalui perangkat digital.

Seseorang yang melakukan doomscrolling biasanya terus menggulir layar untuk mencari berita terbaru tentang bencana, konflik, krisis ekonomi, kecelakaan, penyakit, atau berbagai peristiwa yang memicu kecemasan. Ironisnya, semakin banyak informasi negatif yang dikonsumsi, semakin besar pula dorongan untuk mencari informasi serupa.

Kebiasaan ini tidak hanya memengaruhi suasana hati, tetapi juga dapat berdampak serius terhadap kesehatan mental jika dilakukan dalam jangka panjang.

Apa Itu Doomscrolling?

Doomscrolling berasal dari dua kata dalam bahasa Inggris, yaitu “doom” yang berarti malapetaka atau kehancuran, serta “scrolling” yang berarti menggulir layar.

Secara sederhana, doomscrolling adalah perilaku mengonsumsi berita atau informasi negatif secara terus-menerus meskipun informasi tersebut membuat seseorang merasa cemas, takut, atau tidak nyaman.

Fenomena ini semakin meningkat sejak pandemi global beberapa tahun lalu. Banyak orang merasa perlu terus memantau perkembangan situasi demi memperoleh rasa aman. Namun pada akhirnya, kebiasaan tersebut berubah menjadi pola yang sulit dihentikan.

Saat ini, doomscrolling tidak hanya berkaitan dengan berita pandemi. Topiknya dapat mencakup konflik internasional, kondisi ekonomi, kriminalitas, perubahan iklim, hingga gosip yang memicu emosi negatif.

Mengapa Otak Menyukai Informasi Negatif?

Pertanyaan yang sering muncul adalah mengapa manusia cenderung tertarik pada berita buruk dibandingkan berita baik?

Jawabannya berkaitan dengan cara kerja otak manusia yang telah berkembang selama ribuan tahun.

Secara biologis, otak memiliki mekanisme yang disebut negativity bias. Mekanisme ini membuat manusia lebih memperhatikan ancaman dibandingkan informasi positif.

Pada masa lalu, kemampuan mendeteksi bahaya membantu manusia bertahan hidup. Nenek moyang kita harus selalu waspada terhadap predator, cuaca ekstrem, atau ancaman lainnya.

Meskipun dunia modern jauh lebih aman, otak masih memiliki kecenderungan yang sama. Akibatnya, berita negatif sering kali terasa lebih penting dibandingkan kabar baik.

Media digital kemudian memperkuat kecenderungan tersebut melalui algoritma yang menampilkan konten berdasarkan perhatian pengguna.

Semakin sering seseorang mengklik berita negatif, semakin banyak pula konten serupa yang akan muncul di beranda mereka.

Dampak Doomscrolling terhadap Kesehatan Mental

Meningkatkan Kecemasan

Salah satu dampak paling umum dari doomscrolling adalah meningkatnya rasa cemas.

Ketika seseorang terus-menerus terpapar berita negatif, otak akan menganggap lingkungan sekitar berada dalam kondisi berbahaya.

Tubuh kemudian merespons dengan meningkatkan kewaspadaan, detak jantung, dan produksi hormon stres.

Jika kondisi ini berlangsung terus-menerus, tingkat kecemasan dapat meningkat secara signifikan.

Memicu Stres Kronis

Paparan informasi negatif dalam jumlah besar membuat tubuh sulit memasuki kondisi rileks.

Seseorang mungkin merasa gelisah meskipun tidak mengalami ancaman secara langsung.

Dalam jangka panjang, stres kronis dapat memengaruhi kesehatan fisik maupun psikologis.

Menurunkan Kualitas Tidur

Banyak orang melakukan doomscrolling sebelum tidur.

Mereka berniat hanya membaca beberapa berita, tetapi akhirnya menghabiskan waktu berjam-jam menatap layar.

Selain paparan cahaya biru dari perangkat elektronik, isi berita yang memicu kecemasan juga membuat otak tetap aktif sehingga sulit beristirahat.

Akibatnya kualitas tidur menurun dan tubuh tidak memperoleh pemulihan yang optimal.

Menurunkan Produktivitas

Waktu yang dihabiskan untuk mengonsumsi informasi negatif secara berlebihan dapat mengganggu fokus dan produktivitas.

Otak menjadi penuh dengan kekhawatiran sehingga sulit berkonsentrasi pada pekerjaan, pendidikan, maupun aktivitas sehari-hari.

Memengaruhi Suasana Hati

Seseorang yang terlalu sering membaca berita negatif cenderung mengalami perubahan suasana hati.

Mereka menjadi lebih mudah marah, pesimis, tidak bersemangat, atau kehilangan motivasi dalam menjalani aktivitas.

Tanda-Tanda Anda Mengalami Doomscrolling

Banyak orang tidak menyadari bahwa mereka telah terjebak dalam kebiasaan ini.

Berikut beberapa tanda yang perlu diperhatikan:

  • Terus membuka aplikasi berita atau media sosial tanpa tujuan jelas.
  • Sulit berhenti membaca berita meskipun merasa cemas.
  • Merasa gelisah ketika tidak mengetahui perkembangan berita terbaru.
  • Menghabiskan waktu berjam-jam untuk membaca informasi negatif.
  • Sering merasa lelah secara emosional setelah menggunakan media sosial.
  • Sulit tidur karena terus memikirkan berita yang dibaca.
  • Merasa dunia jauh lebih buruk daripada kenyataan yang dialami sehari-hari.

Jika beberapa tanda tersebut sering dialami, kemungkinan besar doomscrolling telah menjadi bagian dari rutinitas harian.

Mengapa Doomscrolling Semakin Umum?

Perkembangan teknologi membuat informasi tersedia selama 24 jam tanpa henti.

Dahulu masyarakat hanya mendapatkan berita melalui koran atau siaran televisi pada waktu tertentu.

Kini berita hadir setiap detik melalui notifikasi ponsel.

Selain itu, media sosial dirancang untuk mempertahankan perhatian pengguna selama mungkin.

Konten yang memicu emosi kuat sering kali memperoleh tingkat interaksi lebih tinggi dibandingkan konten netral atau positif.

Kondisi ini membuat informasi negatif lebih mudah menyebar dan lebih sering muncul di layar pengguna.

Cara Menghentikan Kebiasaan Doomscrolling

Tetapkan Batas Waktu Konsumsi Berita

Salah satu langkah paling efektif adalah menentukan waktu khusus untuk membaca berita.

Misalnya hanya 15 hingga 30 menit pada pagi atau sore hari.

Dengan cara ini, informasi tetap diperoleh tanpa mengganggu kesehatan mental.

Hindari Membaca Berita Sebelum Tidur

Otak membutuhkan kondisi tenang menjelang waktu istirahat.

Cobalah menghentikan penggunaan media sosial dan portal berita setidaknya satu jam sebelum tidur.

Sebagai gantinya, lakukan aktivitas yang lebih menenangkan seperti membaca buku atau mendengarkan musik santai.

Kurasi Sumber Informasi

Tidak semua sumber berita memiliki kualitas yang sama.

Pilih media yang kredibel dan hindari akun yang sengaja menyebarkan ketakutan atau sensasi berlebihan.

Perbanyak Konten Positif

Menyeimbangkan informasi negatif dengan konten inspiratif dapat membantu menjaga kesehatan mental.

Ikuti akun yang membagikan edukasi, kesehatan, pengembangan diri, atau kisah-kisah positif.

Fokus pada Hal yang Bisa Dikendalikan

Banyak berita yang sebenarnya berada di luar kendali individu.

Daripada menghabiskan energi untuk memikirkan hal-hal yang tidak dapat diubah, fokuslah pada tindakan nyata yang dapat dilakukan dalam kehidupan sehari-hari.

Lakukan Aktivitas Offline

Berjalan kaki, berolahraga, berkebun, memasak, atau menghabiskan waktu bersama keluarga dapat membantu mengurangi ketergantungan terhadap informasi digital.

Aktivitas offline juga memberikan kesempatan bagi otak untuk beristirahat dari arus informasi yang terus-menerus.

Membangun Hubungan yang Lebih Sehat dengan Teknologi

Teknologi bukanlah musuh kesehatan mental.

Masalah muncul ketika penggunaannya tidak disertai kesadaran dan pengendalian diri.

Membangun hubungan yang sehat dengan teknologi berarti memanfaatkan manfaatnya tanpa membiarkan teknologi mengendalikan kehidupan sehari-hari.

Seseorang tetap dapat memperoleh informasi penting tanpa harus mengonsumsi berita negatif secara berlebihan.

Kuncinya adalah keseimbangan.

Dengan mengatur pola konsumsi informasi, individu dapat tetap terhubung dengan dunia tanpa mengorbankan kesehatan psikologisnya.

Kesimpulan

Doomscrolling merupakan kebiasaan digital yang semakin umum terjadi di tengah derasnya arus informasi modern. Meskipun terlihat sepele, perilaku ini dapat meningkatkan kecemasan, stres, gangguan tidur, hingga menurunkan kualitas hidup secara keseluruhan.

Mengenali tanda-tanda doomscrolling sejak dini menjadi langkah penting untuk menjaga kesehatan mental. Dengan membatasi konsumsi berita, memilih sumber informasi yang berkualitas, serta memperbanyak aktivitas positif di dunia nyata, seseorang dapat membangun hubungan yang lebih sehat dengan teknologi.

Pada akhirnya, menjaga kesehatan mental bukan berarti menghindari informasi, melainkan mengetahui kapan harus mencari informasi dan kapan harus memberi kesempatan bagi pikiran untuk beristirahat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *