Di era digital seperti sekarang, hampir semua informasi dapat diakses hanya melalui genggaman tangan. Media sosial, portal berita, video pendek, hingga forum diskusi terus menghadirkan update terbaru setiap detik. Kemudahan ini memang memberikan banyak manfaat, mulai dari akses informasi cepat hingga hiburan instan. Namun di balik itu, muncul sebuah kebiasaan baru yang diam-diam memengaruhi kesehatan masyarakat modern, yaitu doomscrolling.
Istilah doomscrolling mungkin masih terdengar asing bagi sebagian orang, tetapi kebiasaannya sangat sering dilakukan. Doomscrolling adalah aktivitas terus-menerus membaca berita negatif, konten penuh kecemasan, atau informasi yang memicu stres di media sosial maupun internet tanpa bisa berhenti.
Banyak orang melakukannya sebelum tidur, saat bangun pagi, ketika sedang bekerja, bahkan saat tubuh sebenarnya sudah lelah. Ironisnya, semakin banyak konten negatif yang dikonsumsi, semakin sulit seseorang menghentikannya.
Fenomena ini semakin meningkat sejak pandemi dan terus berlanjut hingga sekarang. Informasi mengenai krisis ekonomi, konflik global, bencana alam, kriminalitas, hingga tekanan sosial membuat banyak orang tanpa sadar terjebak dalam pola konsumsi informasi yang tidak sehat.
Padahal, doomscrolling bukan hanya berdampak pada kesehatan mental, tetapi juga dapat memengaruhi kondisi fisik tubuh secara keseluruhan.
Apa Itu Doomscrolling?
Doomscrolling berasal dari dua kata, yaitu “doom” yang berarti malapetaka atau keburukan, dan “scrolling” yang berarti menggulir layar.
Secara sederhana, doomscrolling adalah kebiasaan terus menggulir informasi negatif di internet meskipun konten tersebut membuat seseorang merasa cemas, takut, marah, atau stres.
Kebiasaan ini biasanya terjadi di platform seperti:
- Media sosial
- Portal berita online
- Forum diskusi
- Video pendek
- Aplikasi pesan instan
Banyak orang merasa harus terus mengikuti perkembangan terbaru agar tidak tertinggal informasi. Namun tanpa disadari, otak terus dibanjiri stimulus negatif yang akhirnya mengganggu keseimbangan emosi.
Mengapa Doomscrolling Sulit Dihentikan?
Doomscrolling berkaitan erat dengan cara kerja otak manusia. Secara alami, otak lebih mudah fokus pada ancaman dibanding informasi positif. Dalam psikologi, hal ini dikenal sebagai negativity bias.
Ketika melihat berita buruk atau informasi mengejutkan, otak menganggapnya sebagai sesuatu yang penting untuk dipantau demi bertahan hidup. Akibatnya, seseorang terdorong untuk terus mencari update terbaru.
Selain itu, algoritma media sosial juga memperkuat kebiasaan ini. Semakin sering seseorang melihat konten negatif, semakin banyak algoritma merekomendasikan konten serupa.
Kombinasi antara rasa penasaran, kecemasan, dan algoritma digital membuat doomscrolling menjadi kebiasaan yang sulit dihentikan.
Dampak Doomscrolling terhadap Kesehatan Mental
1. Memicu Kecemasan Berlebihan
Salah satu dampak terbesar doomscrolling adalah meningkatnya rasa cemas.
Paparan informasi negatif secara terus-menerus membuat otak berada dalam kondisi waspada berkepanjangan. Tubuh akhirnya memproduksi hormon stres seperti kortisol dalam jumlah lebih tinggi.
Akibatnya, seseorang menjadi lebih mudah panik, overthinking, dan sulit merasa tenang.
Bahkan masalah kecil dalam kehidupan sehari-hari bisa terasa jauh lebih berat ketika pikiran sudah dipenuhi informasi negatif.
2. Meningkatkan Risiko Stres dan Burnout
Doomscrolling membuat pikiran sulit beristirahat.
Banyak orang merasa lelah secara emosional setelah terlalu lama membaca berita buruk atau perdebatan di media sosial.
Jika berlangsung terus menerus, kondisi ini dapat meningkatkan risiko burnout mental.
Seseorang bisa kehilangan motivasi, merasa emosinya terkuras, dan sulit menikmati aktivitas yang sebelumnya menyenangkan.
3. Menurunkan Kualitas Tidur
Kebiasaan memainkan ponsel sebelum tidur menjadi salah satu pemicu utama doomscrolling.
Paparan cahaya biru dari layar gadget dapat mengganggu produksi hormon melatonin yang berfungsi mengatur tidur.
Ditambah lagi, konten negatif membuat otak tetap aktif dan sulit rileks.
Akibatnya, seseorang menjadi susah tidur, sering terbangun di malam hari, atau merasa tidak segar saat bangun pagi.
Dalam jangka panjang, kualitas tidur yang buruk dapat memperburuk kesehatan mental secara keseluruhan.
4. Menurunkan Konsentrasi
Otak manusia memiliki batas dalam memproses informasi.
Ketika terlalu banyak menerima konten negatif, kemampuan fokus dan konsentrasi dapat menurun.
Seseorang menjadi lebih mudah terdistraksi dan sulit menyelesaikan pekerjaan dengan maksimal.
Hal ini sering terjadi pada pekerja kantoran maupun pelajar yang terbiasa membuka media sosial di sela aktivitas.
5. Memicu Perasaan Putus Asa
Jika terus menerus mengonsumsi informasi buruk, seseorang bisa mulai merasa dunia penuh ancaman dan ketidakpastian.
Tanpa disadari, muncul rasa pesimis terhadap masa depan.
Dalam kondisi tertentu, doomscrolling bahkan dapat memperburuk gejala depresi pada individu yang sudah memiliki masalah kesehatan mental sebelumnya.
Dampak Doomscrolling terhadap Kesehatan Fisik
Banyak orang mengira doomscrolling hanya memengaruhi mental. Padahal efeknya juga dapat dirasakan secara fisik.
1. Menyebabkan Kelelahan Tubuh
Stres mental yang berlangsung lama dapat membuat tubuh terasa cepat lelah.
Hormon stres yang terus meningkat memengaruhi energi tubuh dan membuat seseorang merasa lesu sepanjang hari.
Meski tidak melakukan aktivitas berat, tubuh tetap terasa lemah karena pikiran bekerja terlalu keras.
2. Menyebabkan Sakit Kepala
Terlalu lama menatap layar sambil membaca informasi yang memicu stres dapat menyebabkan ketegangan pada mata dan otot kepala.
Akibatnya, sakit kepala atau migrain menjadi lebih sering muncul.
Selain itu, posisi tubuh yang buruk saat menggunakan gadget juga dapat memicu nyeri leher dan pundak.
3. Mengganggu Sistem Imun
Kadar stres yang tinggi dapat menurunkan sistem kekebalan tubuh.
Tubuh menjadi lebih rentan terserang penyakit seperti flu, gangguan pencernaan, hingga tekanan darah meningkat.
Hal ini menunjukkan bahwa kesehatan mental dan fisik sebenarnya saling berkaitan.
4. Mengurangi Aktivitas Fisik
Orang yang terlalu lama doomscrolling biasanya menghabiskan lebih banyak waktu duduk atau rebahan sambil bermain ponsel.
Kebiasaan sedentary seperti ini dapat meningkatkan risiko:
- Obesitas
- Nyeri otot
- Gangguan postur tubuh
- Penyakit jantung
- Gangguan metabolisme
Tanpa disadari, waktu yang seharusnya bisa digunakan untuk bergerak atau berolahraga justru habis untuk mengonsumsi informasi negatif.
Tanda-Tanda Seseorang Mengalami Doomscrolling
Beberapa tanda berikut bisa menunjukkan seseorang mulai mengalami kebiasaan doomscrolling:
- Sulit berhenti membuka media sosial
- Terus mencari berita buruk meski membuat stres
- Merasa cemas setelah bermain ponsel
- Tidur semakin larut karena scrolling
- Produktivitas menurun
- Mudah marah atau emosional
- Sulit fokus saat bekerja
- Merasa lelah secara mental
Jika tanda-tanda tersebut mulai muncul, penting untuk segera mengontrol kebiasaan digital sebelum berdampak lebih besar.
Cara Mengurangi Kebiasaan Doomscrolling
1. Batasi Waktu Bermain Media Sosial
Mulailah menetapkan batas waktu penggunaan gadget setiap hari.
Gunakan fitur screen time atau digital wellbeing untuk membantu mengontrol durasi penggunaan aplikasi.
Langkah sederhana ini cukup efektif mengurangi paparan informasi berlebihan.
2. Hindari Membuka Ponsel Sebelum Tidur
Usahakan berhenti menggunakan gadget minimal 30 hingga 60 menit sebelum tidur.
Gantilah kebiasaan scrolling dengan aktivitas yang lebih menenangkan seperti membaca buku, meditasi ringan, atau mendengarkan musik santai.
3. Pilih Sumber Informasi yang Sehat
Tidak semua informasi di internet harus dikonsumsi.
Mulailah mengikuti akun atau media yang memberikan edukasi positif dan informatif.
Kurangi paparan akun yang sering menyebarkan konten provokatif atau membuat cemas.
4. Fokus pada Aktivitas di Dunia Nyata
Luangkan waktu untuk melakukan aktivitas offline seperti:
- Berolahraga
- Jalan santai
- Berkebun
- Memasak
- Berkumpul bersama keluarga
- Menjalankan hobi
Aktivitas nyata membantu otak beristirahat dari tekanan digital.
5. Terapkan Digital Detox
Digital detox adalah upaya mengurangi penggunaan perangkat digital dalam periode tertentu.
Misalnya, tidak membuka media sosial selama beberapa jam di akhir pekan.
Cara ini membantu pikiran menjadi lebih segar dan emosional lebih stabil.
6. Latih Kesadaran Diri
Saat mulai merasa cemas setelah scrolling, cobalah berhenti sejenak dan tanyakan pada diri sendiri:
“Apakah informasi ini benar-benar penting untuk saya?”
Kesadaran sederhana seperti ini dapat membantu mengurangi dorongan untuk terus membaca konten negatif.
Pentingnya Menjaga Kesehatan Digital
Saat ini, menjaga kesehatan digital sama pentingnya dengan menjaga pola makan dan olahraga.
Paparan informasi yang tidak terkendali dapat memberikan dampak serius terhadap kualitas hidup.
Masyarakat modern perlu belajar menggunakan teknologi secara lebih sehat dan seimbang.
Media sosial seharusnya menjadi alat yang membantu kehidupan, bukan sumber kecemasan berkepanjangan.
Mengatur konsumsi informasi bukan berarti mengabaikan berita penting, tetapi menjaga agar kesehatan mental tetap stabil.
Kesimpulan
Doomscrolling merupakan kebiasaan modern yang semakin sering terjadi di era digital. Aktivitas terus menerus mengonsumsi informasi negatif dapat memengaruhi kesehatan mental maupun fisik secara signifikan.
Mulai dari kecemasan, stres, gangguan tidur, hingga menurunnya kesehatan tubuh dapat muncul akibat paparan konten negatif berlebihan.
Karena itu, penting bagi setiap orang untuk lebih bijak menggunakan media sosial dan internet.
Membatasi waktu scrolling, memilih sumber informasi yang sehat, serta memberi ruang istirahat bagi pikiran merupakan langkah sederhana yang dapat membantu menjaga kualitas hidup.
Di tengah derasnya arus informasi digital